Kadang sebuah keyakinan harus dibuktikan dengan sebuah perjalanan pencarian, kadang harus dilihat atau disentuh, atau didengar, atau rasakan dalam sebuah pengalaman. Namun kadang cukup berkata saya yakin, saya percaya, i'm believe that. Tapi apapun caranya semuanya membuat pala pening semakin pening dan kita perlu adanya pelampiasan walau sekedar coret oreta di lembaran daun kelor blog. Spritual tidak dibatasi time is money. Namun mempunyai uang kadang mampu menjaga kestabilan fokus akan explorasi diri.

Foxkeh
bengong, oret oretan, daun kelor23 June 2008 8:08 am

….

daun kelor13 November 2006 9:51 am

anak kucing jalan jalan, tidur
anak ayam jalan jalan, glepar
yah, namanya juga anak anak

teriak teriak, ngelirik
nangis guling guling, ngintip
yah, namanya juga cari perhatian

bahas lumpur lapindo, kayak orang dewasa
ngobrolin pilem bioskop, sok ngerti cinta
yah, yang penting ikutan ngomong

motong kue diem diem, makan sendiri
beli es krim, ngumpet ngumpet
yah, jarang makan enak kok dibagi

dinasehatin ini itu ama orang tua, teriak sok tau orang tua
dibilang jangan ini itu ama kakak, bilang kakak gak pengertian
yah, ngedumel orang dewasa sok dewasa sok ngerti

main ini itu dilarang orang tua, merasa dikekang
disuruh kerjakan anu ama kakak, dibilang sok ngatur
yah, gerutu sok pinter sok pengalaman gak ngakuin kepinteran anak

nyoba bergaul dikit, dijewer harus belajar
manjat pohon tinggi, dilarang takut jatuh
yah, kayak gak pernah jadi anak kecil aja

berantem ama anak tetangga, nangis
rebutan permen, jambak jambakan
yah, besok juga udah main bareng lagi

pake baju kotor celana dekil, gak malu
bercanda ketawa ketawa ngakak, gak mikir
yah, namanya juga anak anak

untuk mengingatkan saya yang jika jadi bapak tidak lupa saat menjadi anak

daun kelor4 December 2005 10:24 pm

aku dan kamu
aku meneteskan air mata melihat banyaknya keindahan dalam cinta cinta
disekitar aku dan kamu
hatiku bergetar saat didendangkan nada nada indah dalam sebuah alunan
irama kasih
marahmu dalam nyanyianmu membuatku tetap menatap indahnya suara yang
kau lantunkan
luapan emosi yang kamu ekspresikan dengan gerak tarimu begitu eksotis
dalam pesonamu

aku tertahan melihat bagaimana upayamu menarikku kedalam tarian tarian
tujuanmu
aku tertegun bagaimana kamu memainkan apa yang aku suka dengan gejolak
amarahmupun
kamu tidak membuat yang beda menjadi lebih beda, tidak pula membedakan
sesuatu yang sudah sama
tidak kamu cari cari beda yang memang beda, namun kamu tetap menyamakan
yang sedikit sama

sekaranglah saatnya cinta memainkan nada-nada yang di nyanyikan
paduan dua jiwa dalam bahtera
Dalam satu rithme dalam satu tujuan dalam satu persamaan bukan banyak
bukan milikmu dan bukan milikku
seandainya gitaris kelompok musik bermain irama egonya sendiri
memungkinkan irama sumbang menyesakkan telinga

Sekaranglah saatnya keraguan menyingkir dari bibir pantai dan
meninggalkan kebingungan di masa lalu,
Tidak lah perlu berlari tidak perlu melangkah terlalu jauh, cukup satu
langkah sebagai awalan
Selangkah demi selangkah sesukamu bukan sesukaku, selangkah demi
selangkah dalam kemampuanmu bukan paksamu

Sekaranglah saatnya Bahtera berlayar menuju samudra biru dan membawa
harapan akan datangnya fajar kebahagiaan,
Berharap tanpa pengharapan, berharap bukan tanpa pergerakanmu, kau pun
sudah mengetahui bagaimana berharapmu
Dalam berlayarmu pun kau boleh memilih nahkodamu atau aku atau kau
sendiri yang menahkodai kapalmu yang kapalnya

Semoga Kamu dan Aku bisa menjalani segala rintangan di depan cakrawala
yang luas terbentang disana.
Dalam eratnya pelukanmu dan pelukanku, dalam indahnya senyumanmu dan
senyumanku, dalam satu melodi cinta
Menebarkan dan menggaungkan nada nada membangkitakan cinta mereka dan
meraka dan mereka dalam sama lagu

menatap kedepan dalam satu,bernyanyi bersama dalam sama
mengharum ke sekitar dari diri, mengangkat pijak dari paras
bukan tanpa percaya atas dia, bukan keraguan terhadap mereka
melangkah bukan harapan semu menatap langkah lain berlangkah
akan menjadi langkah memulai dalam sama langkah bukan menunggu

kamu dan aku


Sumber: disadur dengan memberi penambahan kata, dari mutiara yang dilantunkan Fahmi di milis

daun kelor 10:21 pm

aku dan kamu
tidak ada perbedaan tidak ada pembatasan
langkahmu memang bukan langkahku tapi langkahmu adalah langkahnya
kemanapun kamu pergi pasti ada dirinya
darahku bukan darahmu tapi darahmu adalah darahnya
sukmamu bukan sukmaku tetapi sukmakmu adalah sukmanya
kemanapun engkau terbang,kemanapun engkau menjauh pasti akan bertemu
dengannya

bertemu dalam cinta,bertemu dalam sayang
jangan biarkan dirinya terhempas dalam samudra penuh bayang
jangan kau biarkan dia melayang seperti mimpi panjang
karena dia adalah dirimu dan dirimu bukan dirinya
kenapa engkau tidak berani mengucapkan dengan lantang
kenapa engkau tidak berani memberi kepastian…
kenapa engkau hanya ingin menari dengan semesta alam
apa yang kau pikirkan,apa yang kau rasakan

bawakan dia segenggam bunga yang disirami mentari
biarkan dirimu lebur dalam alunan kasih
cinta adalah indah,cinta adalah nyata
ikatan kasih sayang terjalin dalam satu pelukan jiwa diikat sukma
tidak pudar walaupun masa berlalu sudah
lewati ikatan itu dengan suka cita
jadilah satu dalam asmara karena itu yang membuatmu bahagia
kapan lagi akan kau temukan nyanyian indah dalam tidurmu
kapanlagi akan kau temukan surga dalam perjalananmu
mencintai dan dicintai adalah satu kata yang mungkin akan memilki banyak
arti
biarkan angin bertiup,biarkan awan beriring
karena itu nyanyian alam
jangan kau halangi mereka dengan lagumu
biarkan mereka menyambutmu dalam satu harapan indah yang membangkitkan asa
biarkan aliran darahmu dimasuki olehnya
karena dia adalah misteri yang nyata
dia hanya untukmu dan dia pasti untukmu
rasakan getarannya rasakan kehadiranya dan pasti engkau akan bersama
dalam cinta dan kasih sayang


Sumber: diambil dari tulisan heru di milis

daun kelor3 December 2005 12:32 pm

aku dan kamu
memanglah dua buah kata yang berbeda
aku memang tidak akan berani mengatakan dengan lantang
aku pun tidak berani menyatakan dengan kepastian
bahwa aku dan kamu dapat disatukan dalam satu
dalam satu hubungan insan yang bersuami istripun
yang diikatkan dalam satu tali kesatuan garis tuhanpun
masih terdengar nada nada sumbang masa lalu
yang meneriakkan mereka adikmu bukan adikku
yeng membedakan ibumu adalah ibumu bukan ibuku
tanah kelahiranmu adalah tanahmu bukan tanahku
kebiasaan leluhurmu bukan kebiasaan leluhurku

aku tidak akan berani berterus terang didepan umum
aku pun tidak mempunyai nyali melepaskan keputus asaanku
bahwa aku sampai saat ini tetap diam membisu
dalam kegundahanku dalam ketidak berdayaanku tanpa gerak
yang hanya mampu untuk berbuat satu langkah tidak lebih
masih mempunyai angan angan dan harapan masa depan
yang memungkinkan kita adalah satu, aku dan kamu dan kamu
kita adalah sama tak berbeda, aku dan kamu dan kamu
mewadah merangkul berjabat erat berpelukan dalam kasih
nyanyi nari ngarungi samudra mengikuti tarian alam semesta

daun kelor 12:30 pm

Siapa berani menyatukan debur ombak samudra,
dengan kicau bening burung malam?

Siapa berani membandingkan deru alam,
Dengan desah bayi yang nyenyak dibuaian ibunya?

Siapa berani memecah sunyi,
Dan lantang menuturkan bisikan sanubari,
Yang hanya terungkap oleh hati?

Insan mana yang berani,
Melagukan kidung suci Tuhan?
Yang menyatukan Aku dan Kamu.

Kekasihku,
Cari aku dengan rabaan, temui Aku dalam pelukan
Lalu biarkan kabut malam merangkul jiwa kita menjadi satu,
Kecuplah Aku, kekasihku,
karena musim dingin,
Telah merenggut segalanya,
kecuali bibir ini yang berkata :
Engkau dalam dekapan, oh Kekasihku Abadi,
Betapa dalam dan kuat samudera cinta ini,
Dan betapa cepatnya subuh… (titik dua pe)


Sumber: diambil dari tulisan Fahmi di milis

daun kelor 12:28 pm

aku dan kamu
begitu indahnya alunan yang engkau lantunkan
begitu agungnya keindahan yang engkau pancarkan
tapi aku dan kamu tidak lah seperti itu
hanya berbentuk perbedaan perbedaan yang memang beda
pikiranmu dalam otakmu itu urusanmu begitu pula otakku
perasaanmu dalam dirimu adalah masalahmu begitu pula rasaku
kamu gak bisa mendoktrin pikiranku karena aku akan menolak
kamu tidak bisa memaksa kasihku karena aku akan menampik

yahh aku dan kamu,
keindahan yang engkau sebutkan akan menjadi indah
saat diikat dengan satu hubungan darah
menjadikan satu dalam satu keturunan
aku dan kamu pun akan menjadi kokoh
akan bahu membahu dalam sebuah idealnya keluarga

langitku memang langitmu karena aku tak kuasa megangnya
tapi sekali saja mengatakan tanahku bukan tanahmu
atau mengatakan pikirku dalam perbedaanku atas kamu
semua itu akan lenyap, punah dalam adu sang beda
langitku pun jadi beda dengan langitmu sekalipun
walaupun aku dan kamu sadar tidak memilikinya

haruskan aku menikahimu pula dan kamu dan juga kamu sekalian
biar aku dan kamu dan kamu dan kamu terikat satu ikatan keluargapun
sehingga tidak ada beda walau ada namun terikat sama satu.

daun kelor 12:24 pm

Aku dan Kamu,
Hidup Aku berbeda dengan Kamu,
Hidup Kamu berbeda dengan Aku,
Namun Aku dan Kamu menjalani hidup bersama,
Derita Kamu derita Aku Juga,
Senang Kamu senang Aku Juga,
Aku bahagia bisa menjadi bagian Kamu,

Hari aku adalah hari Kamu juga,
Bulan aku adalah bulan kamu juga,
Tahun Aku adalah Tahun Kamu juga,
Langit Aku adalah Langit Kamu juga,
Marilah Aku dan Kamu saling berjabat erat,

Marilah sayang,
Mari berjalan menjelajahi hutan itu,
Pagi telah tiba dan kehidupan telah terjaga dari tidurnya
Dan kini kita mengembara menyusuri pegunungan, lembah-lembah dan ngarai
perbukitan
Mari kita ikuti jejak-jejak musim bunga yang akan kita langkahi,
Tuk menerima anugrah dari tanah yang di janjikan oleh angin,
Di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan.

Fajar musim bunga telah mengeluarkan pakaiannya,
dari lipatan simpanan dan memberikannya pada pohon randu dan waru,
dan mereka kelihatan bagai pengantin dalam upacara tradisi malam yang
sakral.

Lihatlah sulur-sulur palem berpelukan bagai kekasih,
Air kali pun lincah berlompatan menari ria,
Di sela-sela batuan, menyanyikan lagu riang.
Dan bunga-bunga bermekaran dari jantung alam,
Laksana buih-buih bersemburan dari kalbu lautan

Mari pergi ke ladang, kekasihku,
Karena musim menuai telah tiba,
Dan cahaya surya telah memanggang padi kuning-kekuningan,

Mari kita mengerjakan hasil bumi, sebagaimana semangat kegembiraan
menyuburkan butir padi,
Dari benih cinta-kasih, yang tertanam dalam sanubari.
Mari mengisi lumbung dengan limpahan hasil bumi
bagai kehidupan mengisi penuh rongga hati,

Mari, jadikan bunga-bunga alas tidur kita
Dan langit biru selimut kita,
Sandarkan kepala di bantal harum jerami,
Mari kita istirahat sejenak setelah bekerja sepanjang hari,
Sambil mendengar bisik gemercik air sungai yang menyanyi.

Kemarilah sayang, mari meneguk sisa air mata musim hujan,
dari gelas kelopak bunga kangkung,
Dan menenangkan jiwa dengan gerimis nada-nada
Curahan simfoni burung-burung yang berkicauan
dan berkelana riang dalam bayu mengasyikkan

Dekatlah ke mari,
Oh kekasih sepanjang hidupku,
Dekatlah padaku, dan jangan biarkan sentuhan musim dingin membuatmu
menggigil,
Mencelah di antara kita. Duduklah disampingku di depan tungku itu
Sebab nyala api adalah satu-satunya nyawa musim ini.

Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga violet bermekaran
Berteduh dalam persembunyiannya yang manis,
Lihatlah keanggunannya dalam pertukaran kasih rindu.


Sumber: diambil dari tulisan Fahmi di milis

daun kelor2 December 2005 10:16 pm

aku dan kamu
sebuah kata yang mamang berbeda, yang satu aku yang satunya kamu. aku
bukan kamu dan kamu bukan aku. tetapi aku pun bisa adalah kamu, dan
kamu boleh menjadi aku.
tetapi kecenderungan adalah kamu adalah kamu dan aku adalah aku. aku
tidak bisa kamu, dan kamu tidak bisa aku.
bagaimana supaya aku dan kamu adalah aku atau bagaimana supaya kamu
dan aku ada satu yaitu kamu.

daun kelor20 November 2005 6:06 pm

burung tetap memainkan lagu lagu c minor nya
pagi tetap seperti layaknya hari hari terlewat

kisah perjalanan bak kapal mengarungi lautan
yang tertorehkan dalam pahatan kerut dimuka
mempertanyakan kapan sang nahkoda merapat

tidak, suara sesaat menggema dalam ombak besar
meneriakkan ke tetapan hati yang membisu
menunggu datangnya kabar gembira dari langit

kupu kupu menari mengelilingi tatapan semu
kucoba menggaruk garuk tanah, mungkin ada jawab

doa terus kupanjat menuggu ridha dari mu
suara suara menghasut mengalunkan simponi keindahan
tetapi aku tetap diam, diam, diam dalam menunggu

sobat, sebentar lagi sobat, dalam sabar mu sobat
dalam usahamu penebusan diri atas kelammu
dalam kesungguhanmu tinggalkan kelammu

tiba tiba bisikan malaikat kah yang berhembus
atau hanya mimpi mimpi keinginan ego belaka
aku hanya mengaharap ridha darimu tuhan.

aku tiduran