Tanggal satu adalah hari pertama. Bulan desember adalah bulan terakhir. Semua orang juga udah tau akan hal itu. Tapi apa spesialnya? Tapi apa yang harus diperhatikan ?
Memang tidak ada yang spesial, tapi hanyalah sebuah alarm waktu bagi semuanya, khususnya bagi diriku sendiri. Sebuah alarm untuk menentukan sikap dan keputusan. Sebuah alarm dalam penghujung tahun, sebuah tahun yang berangka 2008 dan bershio tikus ini.

Telur semakin bergulir ke ujungnya, sehingga menjadikannya bak telur di ujung tanduk. Tahun depan, yang hanya berumur 1 bulan, tepatnya 30 hitungan hari kedepan plus beberapa jam, akan menjadikan sebuah tahun yang perlu ketegasan sikap. Tapi, sebuah pemikiran dan sikap seperti itu memang sudah berulang kali baik aku dan mungkin kamu, sering diucapkan. Sebuah pemikiran tahun depan akan menjalani sebuah kehidupan yang lebih terarah, lebih bagus dan diharapkan menjadi lebih baik.

Satu sisi pemikiran seperti itu adalah sebuah pemikiran bahwa tahun ini saya atau mungkin kamu, mengalami kegagalan. Sebuah tahun yang morat marit. Tahun yang kelam. Wadoohh. Jangan gitu lah, (mencoba berbicara dengan diri sendiri), masak masih berpikiran sempit nan kerdil dan picik dan kecil seperti itu sih. Coba cari hikmah dan pembelajarannya. Parameter kesuksesan kan bukan hanya ada pada satu buah parameter tapi bisa dalam parameter lain. Coba deh pikirkan lagi… (mencoba menegosiasi akan diri sendiri).

Bahhh (mencoba menampik hikmah). Kamu atau mungkin dia atau dia atau dia.. gak usah munafik lah, kamu dan dia dan dia dan dia kalau memandang orang bukannya masih melihat akan hanya dari beberapa hal saja, materi, jabatan, tahta!! Yah hanya itu kan yang dilihat parameter kesuksesan seseorang !!! Atau paling minim adalah apa sih yang sudah kamu lakukan, apa sih yang sudah kamu hasilkan, yang memang sukses!!!
Kalau aku sih gak gitu …(Mencoba berpikir sok bijak dan dewasa) aku mandang orang gak gitu kok.. aku sendiri gak merasa dalam keterkekangan atas obsesi kesuksesan.
Bahh !!! (dalam sudut yang lain) ingat kamu sudah tidak sendiri, kamu udah ada buntutnya
Yeahh (dalam suara yang lainnya) mungkin kamu merasa tidak apa apa, mungkin kamu terlihat santai dan tenang, mungkin kamu terlihat menikmati hidup .. tapi halahh .. itu kan cuman topengmu atas ketidak mampuanmu , topeng akan penderitaan dan kegelisahan kamu kan .. hahahaha. !!!! Hati kecil kamu masih belum sebahagia dan sebesar itu kan hahaha !!!!

(Merenung)Aku tidak bisa menampik seluruh aliran suara yang berbisik .. yahh dunia pun ikut berbisik …dan berisik dan bersisik sisik…

(Bergumamm..)aku pun tidak bisa membantah kalau aku sudah tidak kecil lagi, kalau aku sudah dewasa sudah belajar akan sebuah kebijaksanaan, aku pun tidak bisa membantah hal tersebut dengan mengatakan bahwa aku orang yang penuh rasa syukur, orang yang penuh dengan pikiran positif.
(Bergeming..) Tidak bisa atau tidak mampu ??? Atau tidak seperti itu, karena realitanya adalah kamu berhadapan dengan sang realita .. kamu berhadapan dengan manusia manusia sosialis dalam bersosialisasi dalam berkompromi dan dalam menggauli matrik matrik sudut pandang, yang berendam bersama dalam telaga pemahaman.
(menenangkan diri) Kita sadar atau tidak sadar memang meminum air telaga tersebut, sebuah sumber air yang menjadi pelepas dahaga saat kita terbentur akan realita. Telaga air pemahaman yang tidak lagi menjadi air yang jernih karena telah bercampur dengan keringat dan ludah para pencintanya.
(Hahahaha tertawa puas) Kamu seperti biasanya, akan melantur ngalor ngidul gak karu karuan. Kamu mencoba mencari bahasa yang mencoba mengangkatmu, tapi sebenarnya itu semua sia sia. Hal itu malah menyudutkanmu ke sudut yang paling sudut di sudut-sudut kesempitan nan gelap, hahaha !!!

diam dan tidak berdaya, diam dalam ketidak berdayaan, diam dan tidak mampu berkata-kata…diam dalam hati, diam dalam pikiran dan diam dalam bersikap… diam dan hanya diam yang akhirnya yang tersisa dalam sisa sisa tenagaku..diam terbujur kaku, menatap kosong langit langit yang kosong dan membisu….

dan aku pun ikut diam

dan dia pun ikut diam

dan meraka pun terbungkam

akhirnya dunia pun tenang dalam kebisuan dan diammu.
Dan duniamu tertidur dalam terjaganya. Dunia pun terlelap dalam meleknya.
Semua terhenti … semua terdiam membisu … semuanya!!! Telur memang tidak lagi diujung tanduk karena telurnya sudah tidak diujung tanduk lagi…