air susu dibalas dengan air susu
Ada sebuah pepatah kuno yang menjelaskan adanya sifat manusia yang tidak mengenal balas budi, yaitu air susu dibalas dengan air tuba.
Kita dari sejak kecil dijelaskan mengenai makna tersebut, dan adanya petuah petuah lanjutan supaya kita menghindari hal tersebut, yaitu tidak mengenal balas budi.
Dan kita sering pula diajarkan bahwa akan pula terjadi yang namanya air susu dibalas dengan air susu atau air tuba dibalas dengan air tuba. Mungkin sudah dijelaskan pula dengan pepatah “siapa yang menabur/berbuat akan menuai hasilnya”. Mungkin hal ini lebih mirip dengan sebuah ajaran mengenai karma.
Ajaran ini kecenderungannya diajarkan kepada kita mengenai efek dari perbuatan, entah sikap, lisan ataupun aksi. Bahwa kalau kita berbuat jahat kepada seseorang, maka suatu saat orang tersebut akan berbuat jahat kepada kita dengan perbuatan yang sama. Atau mungkin jika kita berbuat sesuatu kepada orang lain, maka suatu saat akan ada orang lain yang akan berbuat hal yang sama kepada diriku.
Tapi aku tidak akan membahas mengenai kecenderungan ke arah tersebut. Aku lebih konsern pada “mengajarkan”. Setiap diri pasti melakukan aksi “mengajarkan” kepada orang lain. Minimal untukku sebagai orang tua adalah mengajarkan tentang sesuatu kepada anakku.
Dari sini aku berpikir, misalnya aku mengajarkan kepada anakku untuk melakukan perbuatan “setan” kepada anak lain, maka saat itu aku harusnya sadar, bahwa anakku pada suatu saat akan melakukan perbuatan “setan” tersebut kepada diriku.
Jika aku menyuruh anakku membunuh kawan atau lawannya, maka bisa jadi suatu saat dia akan membunuhku. Atau misalnya ketika anakku curhat mengenai pacarnya yang “reseh” dan menyebalkan, dan aku menyaraninnya untuk meninggalkannya, maka suatu saat akan sangat mungkin aku ditinggalkan anakku atas apa/siapa yang lebih di “aminin” perkataannya. Atau misalnya aku mengajarkan anakku untuk pelit maka suatu saat dia akan pelit pula sama aku. Kalau aku mengajarkannya berbohong, tentunya dia akan sangat ahli berbohong kepadaku.
Yah air susu dibalas dengan air susu, karena pada saat kita mengajarkan apa saja dan diikuti oleh orang tersebut, pasti lah telah melalui proses pertimbangan dan proses berpikir. Dan karena itulah apa yang dilakukannya menjadi “baik dan benar” atau menjadi air susu/pembenaran di salah satu memori diri orang tersebut atau diri lingkungannya dan atau alam semesta yang mengikat orang tersebut. Dan karena mind set didalam bawah sadarnya mengatakan itu baik dan benar (walaupun ajaran setan sekalipun) maka akan selayaknya aku mendapatkan air susu pula dari orang yang aku ajarkan ajaran tersebut baik ketika orang tersebut sadar atau mungkin dalam perbuatan spontan/reflek.
Semoga aku menjadi lebih mawas diri, lebih bijak dalam mengajarkan apapun juga kepada anaku. Karena bagaimanapun juga, aku pula yang akan menanggungnya kelak.





Get free blog up and running in minutes with
ampun ngusss… gw bakal ngajarin si nega bilang “a uk” lagi deh ^:)^.
kekekeke….
Comment by dudi — 13 February 2008 @ 7:31 am
dalem..
ikut mawas diri juga
Comment by watch — 14 February 2008 @ 2:14 pm
eh .. gus .. di footer kok ada foto cewek ??
cewek kamu yah ??
*kabur*
Comment by Indra — 20 February 2008 @ 10:47 am