setiap orang adalah penjual. biasanya kalau ada sebuah statement yang seperti itu…maka ada embel-embel “disadari atau tidak”. tetapi untuk yang satu ini, gw sangat-sangat yakin bahwa setiap orang menyadari dan sangat-sangat sadar bahwa memang seorang penjual. barang yang dijual oleh semua orang adalah sama, mungkin kadar atau kualitasnya yang berbeda. “barang” yang walaupun sudah dibeli, setiap orang masih mempunyai barang itu lagi.
“setiap orang jualan barang? masak sih? “… iyah, dari orang yang paling miskin di dunia pun hingga yang paling kaya jualan barang yang sama. dan kita harus hati hati kalau membeli barang dagangan tersebut. banyak kasus di dunia yang menyebabkan perseteruan hebat, malah sampai saling bunuh ketika transaksi jual beli tersebut dilakukan. apakah sedemikian mahalkah harga barang tersebut? ini yang gw masih bingung terhadap parameter harga dari barang tersebut, di seseorang bisa berharga seratus rupiah, disisi lain bisa berharga milyaran rupiah, tapi disisi lain bisa tidak berharga atau mungkin kita yang tidak menghargai barang yang dimiliki seseorang itu, atau bisa jadi barang dagangan kita yang tidak dihargai orang lain.

tapi yang paling aneh, pada hari ini harganya cuman seratus rupiah, tapi besok bisa menjadi milyaran rupiah kalau kita salah melakukan transaksinya. atau mungkin pada saat kita membelinya malah dibunuh oleh orang tersebut karena dianggap menghina. bisa pula pada hari yang sama, oleh si A berharga jutaan dan oleh si B berharga seratus rupiah.
entahlah parameter yang sangat aneh. apalagi kalau dihubung-hubungkan dengan adanya persamaan satu keluarga, kerabat, tetangga, kenalan, se-”negara”, se-”aliran”, maka bisa jadi harga yang kamu dapat lebih bagus lagi.
dan kenapa di statemen gw diatas mengatakan bahwa setiap orang menyadari kalau melakukan jual beli, karena kalau gak disadari kenapa seseorang bisa marah atau merasa terhina kalau barang dagangannya dihargai murah atau malah tidak dihargai sama sekali. yahh, barang dagangan yang disebut “diri” menjadi tambah ruwet kalau digabung dengan harga ..alias “harga diri”. gw juga bingung harus kasih harga berapa ke diri gw, dan harus membeli dengan harga berapa diri seseorang karena memang tidak di tulis harga diri nya seseorang tersebut, tidak di bajunya, tidak pula di jidatnya.
kadang gw sangat menganehkan ketika si A dan si B yang berantem karena masalah kecil dimana bagi si A, si B telah menghina dan menginjak-injak harga dirinya. gw melihat dari sudut pandang gw hal tersebut kecil dan sepele dan sebenernya gak ada hubungannya ama harga diri.
dikasus lain, gw melihat bahwa ada si B bersikap yang bagi si B bersikap sewajarnya, namun bagi si A yang sebenernya orangnya gak suka ambil pusing atau istilahnya orang-orang jaman sekarang…”orangnya lurus”… eh kok si A merasa terinjak-injak harga dirinya. wadoohh, kalau kasus ini sih gw gak nyalahin si A yang marah ama si B, karena memang keterlaluan, tapi gw juga gak bisa nyalahin si B karena niatannya sebenernya bukan itu, tapi mungkin dia lagi ruwet atau pusing maka salah bertindak..entahlah..atau mungkin itu emang karakternya dia..entahlah.
dan lucunya, saat gw melihat keanehan itu, pas gw marah karena gw merasa gw yang diinjak-injak harga diri gw.. atau di remehkan harga diri gw… kok gw anggap itu wajar yah..bukan hal aneh atau kekanak-kanakan …tapi wajar dan patut untuk marah….pffff