sebuah keputusan yang mungkin akan membuat orang bilang bahwa aku bego, tolol, dongo, gak bertanggung jawab..dan tetek bengek lainnya yang gak jauh dari arti negatip lainnya.
dibilang ribet ..yah gak ribet ribet amat sebenernya kalau gak dipikirin dalem, tapi dibilang ribet yah emang ribet juga hehehe.
aku masih inget dan aku akan berusaha nepatin janji aku 2 tahun yang lalu. aku akan kembali dan aku akan menjadi bagian. namun semua hal itu akan menjadi sebuah dilematik antara esistensi diri dan tekad kebersamaan. pelik memang kalau aku memegang parameter kepemilikan menjadi sebuah dasar perbuatan aku. awal tahun ini aku memikirkan hal ini dengan sangat sangat, dan memang membuat hati aku bimbang..”what for??” itu yang terlintas di pikiranku jika kembali ke mimpi karena aku bukan bagian dari mereka. walaupun diangkat menjadi yang paling tinggi pun suatu saat nanti..tapi intinya tetap saja satu…”bukankah itu sama artinya aku disini ditempat ku saat ini…lalu apa bedanya???”. yah pikiran yang mungkin lumrah terlintas di diri. karena disini pun aku mendapatkan lebih besar saat ini..dan aku saat ini sudah berposisi menanjak. dan bisa jadi suatu saat nanti aku akan seperti seniorku di sini yang telah bergabung 5 tahun yang lalu, yang saat ini dia tidak hanya memegang peranan tertinggi di salah satu grup, namun dia pun diberi sedikit kepemilikan. yahh, apa bedanya, mungkin akan lebih banyak yang ku dapat jika aku tetap disini.
beberapa hari aku terus berputar memikirkan hal ini, aku tanya istriku dan ibuku, aku tanya sekelilingku…namun sebenarnya itu percuma, karena akan terjawab dengan sebuah pertanyaan yang sama dengan diriku “untuk apa… ???…toh…”. yeah, pertanyaan atau pernyataan..entahlah.
di bulan kedua, seorang teman mengajak gabung ke pemikirannya. aku tidak bisa menolak niat baiknya, dan aku pun penasaran akan bentuknya seperti apa. aku jalanin kehidupan biasanya sambil sesekali ngumpul ngumpul ngebahas bahasan serius. lalu terbesit titik terang, karena kebetulan temenku mengenal seseorang yang begitu luas jaringannya. aku mengikuti apa arah pembicaraan, dan sejujurnya hatiku sangat tertarik akan bentuk seperti itu. namun aku heran, kenapa hatiku tetep gundah gulana gak karu karuan…
beberapa hari setelah perkenalanku dengan seseorang itu, tiba tiba 2 orang teman waktu aku masih di sekolah dasar datang ke rumahku. dia menyampikan bahwa salah satu temanku yang lain akan mengadakan resepsi pernikahannya siang itu. ngobrol ngobrol masa lalu, tiba tiba temanku mengajakku untuk membuat sebuah kebersamaan. aku hanya dapat melongo, kenapa begitu banyaknya pilihan. aku lalu mengusulkan untuk membawa ide itu ketempat seseorang yang baru aku kenal itu, dan dia bersedia untuk bertemu di hari selasa.
namun di hari senin, bapak salah satu temanku ituku itu masuk rumah sakit karena stroke. dan di hari selasa dia tidak dapat pergi ketemu dengan seseorang itu. dan seseorang itu berkata bahwa dengan gak datangnya sudah mengartikan bahwa memang tidak dapat dilakukan niat itu. itu sudah pertanda artinya.
aku kemudian menyampaikan kepada temanku, dan dia bilang gimana kalau diminta pertemuan kembali, dia dia akan berusaha untuk bisa datang. lalu aku coba untuk menelepon seseorang itu mengenai hal ini namun dia lagi sibuk dan dia berkata akan menelponku beberapa saat kemudian. karena belum juga menelpon, maka teman temanku pulang.
beberapa saat kemudian, aku ditelpon dengan seseorang itu dan menyampaikan mengenai maksud teman temanku tadi. dan dia mengatakan bahwa kemarin dengan tidak datangnya temanku, berarti itu sudah pertanda tidak. aku coba jelaskan bahwa bapaknya temanku masuk rumah sakit, dengan maksud mencairkan dengan mengerti alasan dari temanku. tapi dia tetap mengatakan bahwa tidak bisa, karena alam pun memberi tanda tidak, tetapi hal itu masih bisa dilihat di kemudian hari. dia bilang supaya aku hanya mengikuti arus saja, mengalir apa adanya. jika memang suatu saat nanti dia ada tanda dilakukannya niat temanku tadi, maka dia akan menyampaikannya kepadaku.
telpon masih belum ditutup, dan dia menanyakan mengenai diriku, lalu aku bercerita dan menjelaskan mengenai kegundahanku. namun dia seperti yang lain mengatakan hal yang sama..”untuk apa gus…”. dia menjelaskan dengan logika logika ..dia mengatakan ayo berpikir dengan akal sehat..dan semuanya menunjukkan bahwa buat apa aku kesana. semakin dipikir..tetap hasilnya sama..dia kemudian menanyakan latar belakang menjadi sebuah kebersamaan yang baru dan aku ceritakan semuanya termasuk janjiku.
namun dia semakin mengatakan bahwa aku bener bener telah ditinggal tanpa menunggu ku di tahun ke 2 ku. aku mengangguk perlahan mengiyakan semua teori kebenaran logika dan akal sehat yang diutarakannya. namun aku memang tau pasti alasan mereka mengenai hal itu. dan aku tau salah satu orang dari mereka sadar akan apa yang diperbuatnya dan perlakuannya kepadaku..tidak seperti yang diutarakan seseorang itu.
dan sebenernya bukankah aku juga meninggalkan mereka..bukankah aku egois walaupun aku disini untuk sesuatu alasan. dan aku sadar, mereka pun akan menanyakan apakah aku akan kembali melihat kondisi nyamanku saat ini..walau aku masih yakin, bahwa salah satu orang disana masih memegang kata kataku dan tidak berpikir yang tidak tidak akan diriku. walau diapun pasti sadar aku sudah mempunyai kehidupanku disini, dan seperti biasanya dia membebaskanku dalam memilih akan hidupku.

setalah itu aku berpikir mengani hal itu lebih dalam, dan mempertimbangkan semua masukan yang ada dan mengolah semua parameter, namun aku gak tau harus memilih yang mana. dan aku sadar, mungkin aku harus melepas kegundahanku itu dengan melepaskannya. aku memutuskan dan berkata kepada temanku yang pertama yang di sini yang mengajakku bersama untuk tidak memilih antara yang disini atau disana.

dilain sisi beberapa hari kemudian, aku ngobrol dengan temanku yang beberapa minggu yang lalu datang dari tempat yang jauh dan mulai meniti mengenai apa yang diperbuatnya di jakarta. dan wuppss, dia mempunyai kejutan bahwa akan menangani suatu hal yang tidak kecil nilainya. aku kagum akan mereka pula. dan dia bertanya akan apa yang pernah kita bicarakan di chattingan sekitar 8 bulan yang lalu. dan dia menanyakan mengenai tekadku yang seharusnya mendekati bulan bulan ini aku melakukan keputusanku. aku tanya balik..kenapa dia menanyakan hal itu pada ku. dan dia bilang kalau memang apa yang aku ingin lakukan itu benar-benar dilakukan, maka dia ingin aku bergabung dengan dirinya. “apaa…!” aku berteriak dalam hati…dalam kebimbangan memilih dua, datang kembali satu pilihan baru yang tidak kalah baiknya untuk diriku di masa depan.
beberapa hari aku memikirkan hal ini, dan kemarin hari rabu tanggal 29 Maret 2006..di sore harinya.. aku menyampaikan keputusanku dalam tidak memilih pula di tempat ku berada saat ini dengan kemapananku yang aku terima saat ini. dan malamnya aku menyampaikan sekali lagi kepada temanku yang mengajakku disini beserta seseorang itu dan dihadapan kawan kawan yang lainnya juga bahwa aku sudah mempunyai kebulatan untuk tidak pula ikut bergabung dengan mereka.
yah, saat ini, aku tidak memilih salah satu pun…maaf teman temanku, aku sangat bersyukur mempunyai teman teman seperti kalian, yang masih mau mengajak ku .. walau track record masa laluku begitu buram…
untuk dua yang lain, aku sudah mengatakannya secara lisan, namun untuk dua yang lainnya aku belum mengatakannya baik secara lisan ataupun tulisan. mungkin hanya dengan ini aku bisa mengatakannya apa yang ada dihati aku. dan untuk yang satunya yang dengan teman sd ku, mungkin memang sudah tidak dapat dilakukan dalam pengkondisian yang menjelaskan ketidak berbentuknya.
dan anehnya, hari kamis kemarin adalah hari raya nyepi untuk umat hindu. yah, mungkin aku memang harus menyendiri terlebih dahulu, melepaskan semua yang menjadi pengikat diri.
terima kasih sobat, maafkan aku yang tidak bisa memilih saat ini..detik ini…tapi entahlah suatu saat nanti kelak, namun aku hanya ingin bersikap adil untuk semuanya saat ini… atau…mungkin memang karena aku yang bodoh. dan biarlah mimpi itu aku pendam saat ini.