Aku dan Kamu,
Hidup Aku berbeda dengan Kamu,
Hidup Kamu berbeda dengan Aku,
Namun Aku dan Kamu menjalani hidup bersama,
Derita Kamu derita Aku Juga,
Senang Kamu senang Aku Juga,
Aku bahagia bisa menjadi bagian Kamu,

Hari aku adalah hari Kamu juga,
Bulan aku adalah bulan kamu juga,
Tahun Aku adalah Tahun Kamu juga,
Langit Aku adalah Langit Kamu juga,
Marilah Aku dan Kamu saling berjabat erat,

Marilah sayang,
Mari berjalan menjelajahi hutan itu,
Pagi telah tiba dan kehidupan telah terjaga dari tidurnya
Dan kini kita mengembara menyusuri pegunungan, lembah-lembah dan ngarai
perbukitan
Mari kita ikuti jejak-jejak musim bunga yang akan kita langkahi,
Tuk menerima anugrah dari tanah yang di janjikan oleh angin,
Di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan.

Fajar musim bunga telah mengeluarkan pakaiannya,
dari lipatan simpanan dan memberikannya pada pohon randu dan waru,
dan mereka kelihatan bagai pengantin dalam upacara tradisi malam yang
sakral.

Lihatlah sulur-sulur palem berpelukan bagai kekasih,
Air kali pun lincah berlompatan menari ria,
Di sela-sela batuan, menyanyikan lagu riang.
Dan bunga-bunga bermekaran dari jantung alam,
Laksana buih-buih bersemburan dari kalbu lautan

Mari pergi ke ladang, kekasihku,
Karena musim menuai telah tiba,
Dan cahaya surya telah memanggang padi kuning-kekuningan,

Mari kita mengerjakan hasil bumi, sebagaimana semangat kegembiraan
menyuburkan butir padi,
Dari benih cinta-kasih, yang tertanam dalam sanubari.
Mari mengisi lumbung dengan limpahan hasil bumi
bagai kehidupan mengisi penuh rongga hati,

Mari, jadikan bunga-bunga alas tidur kita
Dan langit biru selimut kita,
Sandarkan kepala di bantal harum jerami,
Mari kita istirahat sejenak setelah bekerja sepanjang hari,
Sambil mendengar bisik gemercik air sungai yang menyanyi.

Kemarilah sayang, mari meneguk sisa air mata musim hujan,
dari gelas kelopak bunga kangkung,
Dan menenangkan jiwa dengan gerimis nada-nada
Curahan simfoni burung-burung yang berkicauan
dan berkelana riang dalam bayu mengasyikkan

Dekatlah ke mari,
Oh kekasih sepanjang hidupku,
Dekatlah padaku, dan jangan biarkan sentuhan musim dingin membuatmu
menggigil,
Mencelah di antara kita. Duduklah disampingku di depan tungku itu
Sebab nyala api adalah satu-satunya nyawa musim ini.

Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga violet bermekaran
Berteduh dalam persembunyiannya yang manis,
Lihatlah keanggunannya dalam pertukaran kasih rindu.


Sumber: diambil dari tulisan Fahmi di milis